Pemain sepak bola eropa yang gue idolakan yaitu Zlatan Ibrahimovic, David Beckham Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo. Club eropa kesukaan gue adalah Manchester United. Kalau pemain idola gue dalam negeri .ya, pasti Bambang Pamungkas dan klub Indonesia kesukaan gue itu Persija. Awal gue suka persija itu gue mengidolakan Bambang Pamungkas dulu. Setelah gue cari tahu ternyata dia pemain Persija. Sejak itu gue jadi suka Persija
Sejak SD gue sangat ingin menjadi pesepak bola profesional. Saking pengennya jadi pesepak bola, setiap istirahat gue selalu isi dengan bermain sepak bola dengan teman-teman. Kadang kita main di lapangan kadang di depan kelas, kalau di depan kelas kita pakai bola kecil. Yang buat mandi bola tuh haha. Gue juga cukup aktif dalam ekskul futsal di sekolah. Gue juga pernah ikut lomba futsal
Masuk SMP gue makin gila bola. Gue juga makin mengidolakan Bambang Pamungkas, gue sangat ingin menjadi seperti dia. Sampai gue dipanggil bepe oleh pelatih futsal SMP. Karena gue kalau latihan selalu pakai Jersey dengan nameset Bambang Pamungkas dan posisi gue sebagai striker. Seragam futsal pertama gue bernomor punggung 20. Yang mana itu nomornya Bepe. Pada kelas 8 gue masih main bola dikelas dengan bola mandi bola. Tapi kali ini ada taruhannya haha.
Masuk SMA gue masih gila bola tapi gue enggak ikut eskul futsal. Kebiasaan gue bermain sepak bola di jam istirahat enggak hilang. Kali ini kita enggak main di depan kelas. Tapi di lapangan dengan bola plastik. Kita sering "ngadu bola" dengan teman kelas kita yang Cina. Kebetulan di sekolah gue banyak Cina. Karena sekolah gue di asem.ka. Tapi kita enggak pernah benci mereka malah kita sering main bareng. Kita sering menyebutnya dengan "duel Cina vs islam" haaha. Tapi kita benar-benar seperti teman biasa yang enggak beda
Masuk kelas 2 mulai ada rencana dari ortu gue yang ingin menjadikan gue polisi. Sebenarnya gue enggak mau menjadi polisi, tapi gue enggak berani ngomongnya. Sampai gue di ikutin kursus berenang di koni dekat RS. Budi kemuliaan. Karena salah satu syarat menjadi polisi adalah bisa berenang dan gue belum bisa. Setiap minggu jam 10 pagi gue kursus berenang. Karena gue orangnya suka olahraga jadi gue ikutin aja kemauan ortu gue. Ya, itung-itung olahraga lah. Pada saat kursus berenang itu gue selalu memotivasi diri kalau gue berenang supaya napas gue panjang. Karena itu berguna untuk main sepak bola. Jadi gue semangat tuh menjalaninya. Walaupun gue tau tujuan ortu gue bukan itu. Tapi itu pikir nanti aja lah. Gue juga berusaha supaya gue gagal test polisi. Dengan cara gue tetap ngerokok. Padahal udah dilarang. Ortu gue selalu bilang salah satu syarat masuk polisi adalah bebas rokok
Alasan gue enggak suka jadi polisi adalah gue paling enggak bisa di perintah dan dilarang. Gue juga enggak suka pakai seragam. Karena menurut gue kita beragam bukan seragam. Waktu gue SMA. Gue sering pakai seragam yang enggak sesuai. Misalnya seharusnya hari ini pakai celana abu-abu. Tapi gue malah pakai celana putih. Terus tentang larangan pakai kaos kaki hitam. Tapi gue pakai juga. Terus larangan soal celana enggak boleh "skinny fit". Itu juga gue langgar. Pokoknya gue suka dengan tantangan. Gue juga itu akan menimbulkan masalah tapi tetap gue lakuin. Lho kan kalau jadi pemain sepak bola kita juga pakai seragam. Gimana sih lu? Tapi ini passion gue jon. Gue akan sangat bangga memakai seragam sepak bola. Apalagi kalau seragam yang ada lambang garuda nya di dada
Setiap gue pulang kampung saudara-saudara gue selalu ngeledekin gini 'kalau jadi polisi enggak bisa pulang kampung. Karena mereka yang ngatur jalan'. Dulu kata ortu gue, gue mau dijadikan polantas makanya diledekin kayak gitu
Tapi gue mendapat musibah. Gue kecelakaan dan sekarang lagi proses pemulihan pasca operasi. Gue sangat enggak mau kayak gini. Tapi kalau kita ambil hikmahnya mungkin ini cara Allah memberi tahu ortu gue. Kalau orang tua itu jangan memaksa kehendaknya, seharusnya mereka mendukung bakat anaknya. Wong bakat itu pemberian Allah. Tapi ya, enggak cuma gegara itu aja. Gue juga enggak nyalahin ortu gue sepenuhnya. Gue percaya bahwa ada sebab untuk segalanya. Awalnya cita-cita gue kalau enggak jadi pemain bola. Ya, jadi pengusaha. Tapi kalau sekarang gue ingin jadi investor, CEO, penulis. Kok cita-cita gue selalu lebih dari 1? Karena menurut gue kita harus selalu siap mengambil jalan memutar dalam perjalanan menuju tujuan. Yang diubah hanya jalannya bukan tujuannya. Ambil contoh misalnya kita mau ke monas. Kebetulan jalan menuju monas ditutup. Tapi kita enggak mungkin pulang dong. Nah, kita harus mengambil jalan memutar tapi tujuan kita tetap ke monas. Menurut gue ada banyak cara untuk membanggakan atau membahagiakan ortu kita, menjadi orang besar yang berguna. Banyak jalan menuju Roma tapi hati pilih Manchester United hahaha
Selesai

Kaya judul lagu ye jon inginmu bukan inginku wkwk. Tp keren2👍
ReplyDeleteHahaha bisa aje lu jon. Makasih2👌
Delete