(Spoiler alert)
Alusan; cewe yang lagi gue deketin
Tukang ngalus; tukang deketin cewe
Ngalus; deketin cewe.
Belakangan ini gue sering kepikiran tentang fakta kalau gue dulu itu "tukang ngalus", gue terus mencari jawaban dari pertanyaan gue sendiri, gue terus bertanya pada diri sendiri 'kenapa ya gue begitu?', jujur pertanyaan ini mengganggu gue. Akhirnya gue menemukan beberapa alasan.
Jadi gini, dulu gue pernah pacaran waktu SMP, dan gue posesif banget, udah pacaran cukup lama tuh, pas awal SMA kita putus, kacau banget tuh gue disitu, untuk menghilangkan kegalauan, gue nerusin "ngalus"nya, sebenarnya gue mulai "ngalus" pas pacaran sama dia, tapi ngumpet-ngumpet. Pokoknya gue mulai "ngalus" pas masuk SMA, gue inget banget kalau mau ketemu dia, chat sama "alusan" gue hapusin dulu.
Gue terjebak dalam "tren menjadi korban". Nah setelah gue diputusin itu gue memposisikan diri sebagai korban, gue beranggapan kalau gue itu korban. Jadi, dia yang sepenuhnya salah, sehingga gue lupa untuk instropeksi diri dan perasaan dendam mulai tumbuh, gue ingin membuat dia menyesal dengan melihat gue dekat sama beberapa cewe.
Tanpa gue sadari gue ini trauma, lebih tepatnya trauma untuk komitmen pada satu cewe. Karena kalau bisa ngerasain pengalaman yang luas, kenapa harus terpaku pada satu aja, gue juga sadar kalau gue orangnya posesif, mantan gue itu juga suka ngelarang-larang, gue itu orangnya paling gabisa di larang-larang dan di atur-atur. Jadi gue memilih untuk menghindari komitmen, gue mau bebas aja.
Karena gue dulu gabisa bedain antara posesif dan protektif. Gue selalu menganggap posesif gue itu ya protektif, gue akuin gue parah posesifnya, mungkin dia jadi gak nyaman terus mutusin gue deh.
Gue juga merasa kurang kasih sayang dirumah. Karena gue menganggap bahwa gue istimewa, jadi gue selalu merasa diperlakukan tidak adil kalau orang tua gue ngasih perhatian / kasih sayang ke adik gue, gue ngerasa gue berhak mendapatkan kasih sayang yang utuh. Akhirnya gue mencari kasih sayang itu diluar. Dengan "ngalus" itu, gue juga "ngalusin" beberapa kakak kelas cewe buat jadi teman curhat gue.
Karena gue kurang kasih sayang dan menganggap bahwa gue istimewa, jadi gue cari kasih sayang itu diluar rumah. Akhirnya gue menemukan kalau "Keistimewaan" gue ada di dunia percintaan bersama para cewe, jadi gue merasakan ada kebutuhan untuk mendapatkan kasih sayang secara berlebihan, untuk membuktikan pada diri gue bahwa gue memang dicintai dan diterima setiap waktu dan sebagai dampaknya gue mengejar-ngejar cewe seperti pemadat yang mengejar boneka salju. Gue ber anggapan kalau lebih banyak itu selalu lebih baik, gue kira lebih banyak "alusan" itu lebih enak, ternyata tidak juga. Terlebih gue itu orangnya gampang tertarik sama cewe tapi susah buat jatuh Cinta, pas gue waktu itu mau pacaran lagi, gue jadi bingung sendiri milihnya
Gue menjadi seorang buaya darat, tak dewasa namun kadang berkharisma. Yang gue cari adalah "pengakuan", bahwa gue diinginkan, bahwa gue dicintai, bahwa gue untuk pertama kalinya seingat gue, dianggap berharga.
Budaya konsumtif sangat lihai dalam membuat kita menginginkan lebih dan lebih.
Dari peristiwa itu gue juga belajar bahwa lebih banyak tidak selalu lebih baik, faktanya justru kebalikannya yang benar, inilah "paradoks pilihan", intinya semakin banyak pilihan yang diberikan, kita akan semakin kurang puas atas apapun yang kita pilih, karena kita sadar akan semua pilihan yang mungkin sekali kita korbankan.
Gue belajar, mengejar pengalaman sebanyak-banyaknya justru akan menghalangi kita dari kesempatan untuk mengalami nikmatnya kedalaman suatu pengalaman.
Gue belajar, kalau gue tidak bisa terus-menerus mengikuti "tren menjadi korban", suka tidak suka gue harus menerima tanggung jawab tersebut. Baru-baru ini gue diuji soal komitmen gue untuk mulai menerima tanggung jawab dan berhenti untuk mengikuti "tren menjadi korban". Setelah gue amati, mengikuti "tren menjadi korban" itu menghambat kita untuk tumbuh. Kok bisa? Soalnya kita hanya melihat kesalahan dia, sehingga kita lupa untuk introspeksi diri, karena kita terlalu asyik menyalahkan dia
Gue gamau lagi jadi orang yang posesif. Itu adalah "lingkaran setan", ambil contoh; misalnya situasinya gue lagi cemburu ke pacar gue ya. Pasti pertama-tama gue akan meriksa hp pacar gue, jika gue tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, gue akan berprasangka 'jangan-jangan dia punya hp satu lagi yang khusus buat selingkuh', dan gue akan terus kepikiran, terus, dan terus.
Gue harus bisa menghilangkan anggapan kalau gue ini istimewa, keistimewaan ini bekerja dalam salah satu cara berikut:
1. Gue luar biasa dan kalian semua payah, jadi gue berhak mendapatkan perlakuan istimewa
2. Gue payah dan kalian luar biasa, jadi gue berhak mendapatkan perlakuan luar biasa
Gue lebih sering pakai cara nomor 1, cara itu menuntun gue menjadi pribadi yang sombong, gue merasa berhak menyukai seseorang lalu mendekatinya lalu mematahkan begitu saja harapannya. Gue harus bisa menghancurkan kesombongan gue itu untuk menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya.
Selesai.
Comments
Post a Comment