Skip to main content

Masalah




'Pada intinya, hidup hanyalah rentetan masalah yang tidak ada ujungnya. Solusi terhadap satu masalah hanya akan menciptakan masalah lain 
Jangan mengharapkan suatu kehidupan yang bebas dari masalah, tidak ada hal seperti itu. Sebaliknya, berharaplah akan hidup yang penuh masalah-masalah baik'

Itulah kutipan keren dari buku yang gue baca. Dan itulah kenyataannya 'hidup hanyalah rentetan masalah yang tidak ada ujungnya' dan 'solusi terhadap satu masalah hanya akan menciptakan masalah lain'

Ambil contoh, ketika tanggal 4 agustus 2018 lalu, gue foto tuh, sama seperti orang kebanyakan gue liat dong hasil fotonya dan gue kesal melihat perut gue yang membuncit. By the way gue paling benci sama perut buncit, karena role model gue David beckham, gue di masa depan sangat ingin seperti dia, dia keren sih menurut gue, udah punya istri cantik, anak-anak yang keren-keren, tajir tapi masih mau jaga penampilan, padahal dia bisa aja enggak peduli sama penampilan, dia mau buncit juga udah punya istri cantik, anak-anak yang keren-keren, dan punya banyak uang 

Nah mulai hari itu gue punya masalah; perut buncit. Gue hari itu juga langsung nyari di youtube 'tips mengecilkan perut buncit', hingga gue tertarik dengan diet OCD. Menurut gue itu yang termudah, karena kita masih boleh makan apa aja asal jam makan kita dibatasi mulai dari 7,6, berapa lagi ya? Lupa gue haha

Awalnya gue mulai dengan 7jam, terus sekarang 6jam, nah disini terbukti kan kalo 'solusi terhadap satu masalah hanya akan menciptakan masalah lain'. Masalah gue adalah; perut buncit, solusinya; gue diet supaya perut buncit gue menghilang, masalah barunya; gue harus disiplin untuk enggak makan kalo jam makan gue udah habis, kadang gue cuma makan sehari sekali, karena enggak ada orang dirumah, tapi udah melewati jam makan gue (gue kan belum pulih, jadi belum bisa aktivitas sendiri, dan gue juga kalo makan sehari sekali sih, makan besarnya siang, nanti sebelum jam makan gue habis, biasanya gue makan buah, tapi kalo engga ada buah ya, roti tawar gandum sama minum kopi), gue lebih memilih enggak makan daripada harus makan diluar jam makan gue (kalo lagi enggak ada orang dirumah). Karena tujuan gue lebih penting daripada cuma makan, wong masih ada hari esok 

'Kebahagiaan datang dari keberhasilan memecahkan masalah'
Kutipan tersebut benar adanya, gue sekarang bangga dan bahagia sama gue sendiri karena berkat kedisiplinan gue, perut gue sekarang bebas lemak yang "bergelambir". Ya, walaupun belum seideal yang gue bayangkan, tapi ini udah lumayan lah buat menghilangkan lemak "bergelambir" di perut ini. Nanti kalo udah pulih, baru dah gue olahraga rutin untuk mewujudkan tubuh ideal gue 

Bapak gue bilang kalo gapapa sekarang buncit, nanti kalo udah pulih baru olahraga rutin. Gue enggak setuju, karena menurut gue bakal susah kalo udah buncit, karena nanti gue harus mengubah kebiasaan yang udah lama gue lakukan, itu lebih sulit sih daripada gue melakukannya sekarang, ini tentang kebiasaan, awalnya gue emang enggak menyenangkan harus menahan laper, tapi kalo lagi laper gue suka memotivasi diri sendiri gini 'inget tujuan gue adalah tubuh ideal, supaya kalo pakai baju enggak terganggu dengan perut yang maju'

Gue juga terganggu dengan pernyataan orang-orang mengenai perut buncit, katanya perut buncit itu tanda dari "makmur / kaya". Enggak juga sih, coba lu liat David beckham, sandiaga uno, dan Deddy corbuzier mereka perutnya enggak buncit, tapi mereka "Makmur / kaya", ada juga yang "Makmur / kaya" tapi buncit, tergantung orangnya juga. Jadi buat para bunciters jangan mengeluarkan pernyataan kayak gitu lah, udah lu akuin aja kalo lu buncit, gausah nyari pembelaan. Gue juga pernah buncit, tapi gue enggak menyiapkan pembelaan terhadap itu, gue memilih bertanggung jawab atas kebuncitan gue 

'Jika penderitaan tidak bisa ditolak, jika masalah dalam kehidupan kita tidak dapat dihindari, pertanyaan yang harus kita ajukan bukan 'bagaimana gue menghentikan penderitaan?' tapi 'kenapa gue menderita, demi tujuan apa?'

'Never complain about the difficulty in life, because a director (god) always gives hardest role to his best actor'

Selesai 

Comments

Popular posts from this blog

Kesempatan kedua

Jika masa lalu penuh dengan pikiran dan perbuatan negatif, maka anda bisa mengubahnya ke arah positif. Jika anda sadar bahwa semua yang terjadi pada masa lalu tidaklah baik, maka mulailah mengubah sikap dan tingkah laku sedikit demi sedikit. Dengan demikian, mulai timbul perasaan bangga dalam diri bahwa anda dapat menangani situasi sesuai keinginan anda. Akhirnya, hal ini akan berkontribusi terhadap terbentuknya harga diri yang tinggi.  (Itu adalah kutipan dari buku 'cara mudah berdamai dengan diri sendiri'). (Tujuan gue bukan untuk menjadi lebih baik dari orang lain, tetapi untuk menjadi lebih baik dari gue ddulu)  Jadi gini, jelek-jelek gini gue pernah TPA lho, dan prestasi terbaik gue di TPA itu adalah gue pernah peringkat 8, dari 9 murid (haha gak deng). Masuk SD gue mulai sholat maghrib di masjid sama teman-teman, tapi ya gak selalu sholat sih. Masuk SMP gue mulai sholat dzuhur berjamaah disekolah, itu juga gue bercanda, biasanya gue isengin orang dengan cara ...

Jum'at Keramat

Pas cabut (madol) kita enggak foto-foto sih Adanya itu yang pake seragam muslim  Setiap jum'at gue dan teman-teman (entah itu teman satu sekolah, dari sekolah lain, teman SMP dan tongkrongan) membuat sebuah gerakan (cih gerakan hahaha) yang kita namai dengan 'jum'at keramat'. Yang mana kita setiap jum'at cabut (madol) Berawal dari keresahan gue dan sahabat gue Adi, yang mana kita teman sekelas. Setiap hari jum'at itu ada pelajaran matematika, gurunya super killer, dia setiap ngajar selalu bawa gunting, gunanya adalah untuk memotong rambut yang menurut dia panjang, dan memotong celana yang skinny fit. Rambut gue pernah dipotong, tapi untungnya celana gue enggak kena potong, karena celana gue slim fit, jadi enggak begitu ketat kayak jeans cewek. Tapi celana gue udah sering diperingati. Ya, gue bilang aja ' besok ganti pak'  padahal mah enggak hahaha  Itulah alasan gue kenapa sering cabut (madol) dihari jum'at. Padahal ada solusi lain ka...

Change your habit, wiicak!

Semoga tulisan ini dapat menemani masa-masa kita #dirumahaja Setelah gue pikir-pikir lagi, gue jadi semakin yakin buat menghentikan kebiasaan gue merokok (setelah gue pulih).  Jadi gini, gue pertama ngerokok itu kelas 1 SMP. Pertama kali gue ngerokok itu gue nyoba filter, waktu itu rasanya sih panas dilidah dan gue langsung batuk-batuk. Tapi bukannya kapok gue malah penasaran, terus besoknya disekolah gue disarankan teman gue buat nyoba rokok mild, katanya itu lebih ringan. Sepulang sekolah (kebetulan gue pulang sekolah jalan kaki), gue beli lah rokok mild (ketengan), ternyata benar lebih ringan tarikannya dan lebih murah daripada filter yang 1.500, jadi gue bisa beli rokok sama teh gelas hahaha. Saat itu gue masih ekskul futsal, tapi udah males-malesan karena gue udah kenal nongkrong, dari situ gue mulai tuh nongkrong (karena gue butuh tempat dimana gue bisa bebas ngerokok). Karena pernah satu hari gue sama teman gue kan baru pulang dari rumah teman gue di kedoya, kita ...