Selamat membaca 🌷
Gue percaya pada hukum sebab akibat, dan semua yang terjadi kepada gue ini adalah akibat dari kebiasaan buruk gue kemarin-kemarin.
Walaupun banyak orang yang therapy gue bilang kalo gue kena "guna-guna", tapi gue gak mau menjadikan itu "alasan pembenaran" atas masalah yang menimpa gue, karena kalau mikirin tentang itu, pasti gue bakal stres, gue pasti mencari tahu siapa yang melakukan, siapa yang nyuruh, ujung-ujungnya gue dendam deh. Penyakit lagi tuh, ribetlah pokoknya.
Ya, ini adalah kesalahan gue dan gue harus bertanggung jawab atas ini, gue harus memperbaiki ini. Pertama-tama yang gue harus memperbaiki adalah sebabnya, jika ingin mendapatkan akibat yang baik, kita harus membuat sebab yang baik dulu dong.
Bertanggung jawab atas permasalahan kita jauh lebih baik, karena dari sanalah pembelajaran yang sesungguhnya berasal. Menyalahkan orang lain hanya akan melukai diri sendiri.
Makanya gue berkomitmen untuk menghilangkan kebiasaan buruk yang gue lalukan dulu step by step. Karena kemajuan dibuat selangkah demi selangkah, gak bisa kita mengharapkan perubahan dalam waktu semalam.
Entah gua harus berterima kasih kepada Allah atau kecewa, karena gue punyahati sedingin es. Gue susah banget terharu dan nangis.
Tapi sifat tersebut sangat berguna untuk situasi ini, coba aja gue punya hati lembut, pasti gue sering nangis. Ya, karena banyak hal.
Salah satunya adalah penyesalan, gue pasti menyesali keadaan gue saat ini hingga akhirnya gue putus asa dan tidak punya gairah untuk memperjuangkan hidup lagi.
Tapi yang bikin gue kecewa adalah respon orang tua gue, mereka malah menanyakan 'sebenarnya hatimu terbuat dari apa sih?', gue juga sering di kira tenang-tenang aja karena gue gak pernah nangis. Buat apa coba?.
Ketika hidup ini menjadi keras, kita harus menghadapinya dengan lebih keras lagi.
Gue bukan tipe orang yang menyesali masa lalu, gue lebih suka menyebutnya
Sebagai "pengalaman pembelajaran". Ya, karena memang benar ini pengalaman sekaligus pembelajaran yang sangat berharga bagi gue.
Mungkin kalau tidak ada musibah ini, yang membuat gue harus cuti dari hiruk-pikuk nya kehidupan. Gue masih menjadi Rakawiicak yang ugal-ugalan itu, mungkin lebih. Pasti gue belum merasakan nikmatnya puasa ramadan 1 bulan, sholat lebih dari satu kali sehari, puasa sunnah senin kamis, dll.
Gue selalu berusaha berbaik sangka kepada Allah, gue berfikir kalau ini tuh bukan hukuman dari Allah. Kalau ini hukuman, gue pasti udah mati di makan cacing. Gue beranggapan kalau gue memang di suruh mendekatkan diri ke Allah, karena gue dulu udah berjalan terlalu jauh menjauhi Allah. Gue juga harus membaca buku self improvement agar gue bisa berkembang dan menjadi semakin siap menghadapi kehidupan yang keras ini, gue juga ngerasa kalau gue tuh harus belajar berjuang sendiri, karena gue dulu gak betah di rumah, bawaan nya mau nongkrong aja, itu juga supaya gue lebih menghargai hidup dan gak ugal-ugalan lagi.
Cobalah lihat kegagalan dari sudut pandang yang positif dan berusahalah mencari pelajaran dibalik semua yang terjadi.
Jujur gue dapat pemikiran positif dan optimis gini gak tiba-tiba, gue harus nunggu 4tahun sampai gue punya pemikiran se positif dan optimis ini, didukung juga dengan gue sekarang punya hobi baru yakni membaca buku bergenre self improvement, jadi gue mendapat motivasi tambahan dari situ. Awal gue mendapat musibah ini pemikiran gue masih ABG banget, gue marah ketika mendapat musibah ini, gue selalu bilang 'kenapa gue?'.
Gue sampai pada keyakinan bahwa manusia hebat lahir dari kesulitan dan kesakitan yang dia alami.
Gue percaya kalau semua hal terjadi karena ada maksud baiknya. Gue pernah baca cerita tentang seorang Raja dan patih yang bijaksana, kurang lebih gini ceritanya. Suatu hari sang Raja ingin berburu dan Raja mengajak patih itu, namun si patih menolak, sehingga membuat Raja marah, sang Raja lalu memasukkan patih ke penjara. Patih tidak marah, dia hanya bilang 'Semua hal terjadi karena ada maksud baiknya'. Lalu sang Raja dengan terburu-buru mengambil panahnya hingga jari sang Raja terluka karena terburu-buru. Sudah lama Raja berburu, tapi tak satupun hewan buruan yang di dapatkan. Hingga Raja melihat ada hewan buruan, di kejar sama Raja hingga Raja gak sadar ternyata Raja masuk ke wilayah di mana suku yang menguasai wilayah itu kanibal. Raja pun akan di jadikan makan malam suku itu. Tapi batal, karena suku itu tidak makan orang cacat (kan tadi jari Raja terluka). Raja pun pulang ke istana nya, Raja langsung mememui patih, Raja menceritakan kejadian yang menimpa nya. Dan bertanya kepada patih 'kenapa kamu tidak marah waktu aku penjara tadi?' patih menjawab 'Semua hal terjadi karena ada maksud baiknya, coba tadi aku ikut berburu, pasti aku yang di makan suku itu' dan patih pun di bebaskan dari penjara.
Gue mungkin kelihatan tenang-tenang aja, padahal mah gak. Gue masih latihan rutin, terus berdoa, terus mendekatkan diri ke Allah sampai sekarang dan gue juga bikin plan tentang apa yang harus gue lakukan nanti kalau udah pulih.
Itu semua gue lakukan karena gue sangat yakin kalau situasi ini tuh sementara, yang membuat gue sangat yakin adalah gue selalu ada perubahan yang baik, tapi gue juga pernah mengalami kemandekan, di mana udah berapa lama gue gaada perubahan, tapi itu tidak melunturkan semangat gue.
Kita semua pernah mengalami suatu kemandekan, lalu kita menjadi frustasi dan marah. Terkadang kita dibuat ingin tahu oleh masalah, lalu kita mau bersusah payah untuk berusaha mengatasinya, dan "ketidaknyamanan" ini malah menjadi menyenangkan. Ini seperti seorang detektif yang menguak misteri.
Sejatinya hidup ini bagaikan rangkaian musim yang berbeda, ada kalanya musim hujan, di lain waktu datang musim kemarau, tidak ada musim yang akan bertahan selamanya dan ketika satu musim berakhir maka sudah saatnya berubah, bergerak maju dengan keyakinan yang positif.
Gue bersiap menyambut musim baru yakni dengan latihan rutin, menjaga makan, terus berdoa, terus mendekatkan diri ke Allah dan membuat plan apa yang harus gue lakukan setelah pulih nanti. Agar ketika udah berganti musim, gue udah siap untuk menyambut musim baru. Setelah pulih, gue juga harus memikirkan gimana caranya gue bisa bertahan, sehingga gue bisa mencapai goals yang paling gue dambakan yakni kesuksesan yang sejati. Sukses dalam karier, sukses dalam keluarga, sukses dalam persahabatan, dll.
Bersikaplah optimis dalam menghadapi tantangan hidup ini, seorang juara sejati tidak menghabiskan waktunya untuk berkeluh kesah memikirkan masalah yang dihadapinya, melainkan fokus terhadap solusi dan kesempatan yang tersedia, fokuskan pikiran lu pada tujuan lu.
Goals itu penting, namun goals saja tidak cukup untuk bisa mencapai suatu target tertentu, diperlukan lebih dari itu, diperlukan desire (keinginginan kuat) untuk mewujudkan goals tersebut.
Jangan fokus pada kesulitan dan tantangan dalam mewujudkan goals, tapi fokuslah pada benefit yang akan kita dapatkan jika goals itu terwujud.
Jadi, goals terdekat gue adalah pulih, untuk mencapai itu gue harus mempunyai plan, gue juga harus punya keinginan kuat untuk mewujudkan goals itu. Plan gue adalah latihan rutin, terus berdoa, terus mendekatkan diri ke Allah.
Selesai.
Terimakasih udah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan gue ini, sampai jumpa di tulisan gue selanjutnya🌷



Comments
Post a Comment