Skip to main content

Cabut Upacara

Ini foto pas gue cabut upacara 
Gue tidak membenci monday, tidak seperti orang kebanyakan yang menganggap monday sebagai MONster DAY. Tapi gue tidak mau munafik. To be honest, gue juga males bertemu hari senin karena gue harus bangun pagi lagi setelah libur di hari minggu. Jadi, kenapa gue tidak membenci senin, bukannya gue termasuk siswa yang membenci sekolah? Ya, itu benar bagi gue sekolah itu pencipta peraturan yang gue anggap aneh, mulai dari seragam, model rambut, dan cara belajar, semua itu terasa sangat membosankan, para remaja ingin melakukan hal-hal baru, kita dibatasi dalam berekspresi dan berkreasi, serta dibatasi untuk melakukan hal-hal yang kita sukai. 

Setiap senin gue dan sahabat gue Adi selalu cabut upacara, itulah sebabnya gue tidak membenci senin. Gue benci sekolah tapi gue senang bertemu teman-teman di sekolah. 

Setiap pagi gue dan Adi berangkat bareng, kita kalau berangkat sekolah tuh selalu terlambat, alasan mengapa kita selalu terlambat adalah 1. Adi itu kalau siap-siap lama, jadi gue harus nunggu dia dulu. Padahal gue udah keluar rumah dari jam6. 2. Jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh, rumah kita di Kemanggisan sementara sekolah kita ada di Tambora. 3. Kita kalau naik motor, kita sambil nyanyi-nyanyi, otomatis gue harus memperlambat laju motor. 

Sesampainya di sekolah, kita memarkir motor di gang lamceng, di situ tempat parkir motor anak SMA 19, di gang itu juga banyak warung makan  ada juga warung yang menjual rokok. Di situlah kita biasanya nongkrong kalau lagi istirahat. Gang itu letaknya persis di sebelah sekolah jadi, kalau bel berbunyi kita tahu. 

Sesudah kita memarkir motor, kita tidak segera menuju lapangan untuk upacara. Kita malah duduk-duduk di warung yang ada di gang lamceng, biasanya gue sambil makan pisang goreng, kita di situ sampai sebelum bel di mulainya pelajaran pertama berbunyi. 

Alasan kita cabut upacara adalah. Ya, karena males aja berdiri diam gitu, jujur gue paling gak bisa kalau harus diam. FYI. Satu sekolah cuma kita berdua doang yang cabut upacara. Kita kan udah terlambat, jadi tanggung lah mau ikut upacara juga pasti kena hukum karena terlambat

Lalu timbul pertanyaan gini: apa gerbang sekolahnya tidak di tutup, kan udah masuk? Jawaban tidak, jadi di belakang sekolah kita ada SD dan SMP. Tapi gak gabung, terus apa hubungannya dengan gerbang tidak di tutup? Gerbang itu tidak di tutup karena orang tua murid SD itu sering keluar masuk. Ada lagi yang epic dari sekolah kita. Jadi, lapangan sekolah kita adanya di rooftop, makannya kita bisa bebas keluar masuk kelas tanpa ketahuan. Kalau sekolah biasa kan lapangannya di depan.

Beginilah gerbang utama nya 

Benar kan lapangannya di rooftop 

Benar kan lapangannya di rooftop 


Selesai 

Comments

Popular posts from this blog

Kesempatan kedua

Jika masa lalu penuh dengan pikiran dan perbuatan negatif, maka anda bisa mengubahnya ke arah positif. Jika anda sadar bahwa semua yang terjadi pada masa lalu tidaklah baik, maka mulailah mengubah sikap dan tingkah laku sedikit demi sedikit. Dengan demikian, mulai timbul perasaan bangga dalam diri bahwa anda dapat menangani situasi sesuai keinginan anda. Akhirnya, hal ini akan berkontribusi terhadap terbentuknya harga diri yang tinggi.  (Itu adalah kutipan dari buku 'cara mudah berdamai dengan diri sendiri'). (Tujuan gue bukan untuk menjadi lebih baik dari orang lain, tetapi untuk menjadi lebih baik dari gue ddulu)  Jadi gini, jelek-jelek gini gue pernah TPA lho, dan prestasi terbaik gue di TPA itu adalah gue pernah peringkat 8, dari 9 murid (haha gak deng). Masuk SD gue mulai sholat maghrib di masjid sama teman-teman, tapi ya gak selalu sholat sih. Masuk SMP gue mulai sholat dzuhur berjamaah disekolah, itu juga gue bercanda, biasanya gue isengin orang dengan cara ...

Jum'at Keramat

Pas cabut (madol) kita enggak foto-foto sih Adanya itu yang pake seragam muslim  Setiap jum'at gue dan teman-teman (entah itu teman satu sekolah, dari sekolah lain, teman SMP dan tongkrongan) membuat sebuah gerakan (cih gerakan hahaha) yang kita namai dengan 'jum'at keramat'. Yang mana kita setiap jum'at cabut (madol) Berawal dari keresahan gue dan sahabat gue Adi, yang mana kita teman sekelas. Setiap hari jum'at itu ada pelajaran matematika, gurunya super killer, dia setiap ngajar selalu bawa gunting, gunanya adalah untuk memotong rambut yang menurut dia panjang, dan memotong celana yang skinny fit. Rambut gue pernah dipotong, tapi untungnya celana gue enggak kena potong, karena celana gue slim fit, jadi enggak begitu ketat kayak jeans cewek. Tapi celana gue udah sering diperingati. Ya, gue bilang aja ' besok ganti pak'  padahal mah enggak hahaha  Itulah alasan gue kenapa sering cabut (madol) dihari jum'at. Padahal ada solusi lain ka...

Change your habit, wiicak!

Semoga tulisan ini dapat menemani masa-masa kita #dirumahaja Setelah gue pikir-pikir lagi, gue jadi semakin yakin buat menghentikan kebiasaan gue merokok (setelah gue pulih).  Jadi gini, gue pertama ngerokok itu kelas 1 SMP. Pertama kali gue ngerokok itu gue nyoba filter, waktu itu rasanya sih panas dilidah dan gue langsung batuk-batuk. Tapi bukannya kapok gue malah penasaran, terus besoknya disekolah gue disarankan teman gue buat nyoba rokok mild, katanya itu lebih ringan. Sepulang sekolah (kebetulan gue pulang sekolah jalan kaki), gue beli lah rokok mild (ketengan), ternyata benar lebih ringan tarikannya dan lebih murah daripada filter yang 1.500, jadi gue bisa beli rokok sama teh gelas hahaha. Saat itu gue masih ekskul futsal, tapi udah males-malesan karena gue udah kenal nongkrong, dari situ gue mulai tuh nongkrong (karena gue butuh tempat dimana gue bisa bebas ngerokok). Karena pernah satu hari gue sama teman gue kan baru pulang dari rumah teman gue di kedoya, kita ...