Sekarang gue bisa berbangga, pasalnya gue punya satu sifat yang gue sebut sebagai "aset". Sifat itu adalah idealis, namun masih harus gue kembangkan lagi.
Karena idealisme gue berbeda dengan keluarga gue, hingga gue dibilang "nyeleneh". Gue juga pernah ceritain tentang gue golput, padahal orang tua gue pendukung salah satu paslon. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi tindakan gue itu. Alasan pertama adalah, mereka berdua
(Capres dan cawapres) gak bisa meyakinkan gue. Alasan kedua, karena gue gak yakin dengan apa yang gue lakukan, jadi mendingan gue gak melakukan. Alasan ketiga, menurut gue politik itu kotor, kita bisa lihat dari banyak nya pejabat yang terkena kasus korupsi.
Jika ada yang bilang 'masa golput, gak nasionalis lu'. Bentar-bentar, lu tahu gak kalau memilih itu hak bukan kewajiban? Itu hak gue mau memilih atau gak. Dan gue juga menggunakan hak gue kok, yaitu hak untuk tidak memilih.
Anggap saja ada orang yang tidak membayar pajak tapi dia memilih, lalu dia koar-koar kepada yang golput, jika tindakan mereka itu tidak nasionalis. Padahal dia yang sudah merugikan negara dengan tidak membayar pajak, dan membayar pajak itu kewajiban lho. Dan golput itu dilindungi oleh pasal 28 e (2) UUD 1945 yang menyebutkan bahwa setiap orang memiliki hak untuk menyatakan pikiran, sikap, yang sesuai dengan hati nuraninya.
Jika ada orang yang punya keyakinan beda dengan lu, ya jangan dianggap salah dan lu memaksa agar idealisme dia sama seperti punya lu, dan lu merasa idealisme lu lah yang paling benar. Hargai perbedaan.
Gue sering dianggap keras kepala oleh orang tua gue, tapi untuk masalah golput ini, gue berani bilang jika tindakan ini idealis bukan keras kepala. Kenapa gue sangat yakin? Karena gue punya dasar yang kuat, gue mengerti sepenuhnya mengapa hal ini benar, dan apa kerugiannya jika gue tidak berpegang pada idealisme ini, daripada gue hanya "mengikuti arus" dengan melakukan hal yang gue sendiri tidak yakin, hanya karena kebanyakan orang melakukannya, gue lebih baik tidak melakukan itu. Gue juga tidak takut menjadi beda.
Gue akui jika kadang gue keras kepala, itu karena kepribadian gue koleris, koleris itu orangnya dominan, gak suka di kendalikan. Ya, gue masih harus banyak belajar bagaimana agar menjadi seorang idealis sejati.
Thank you telah membaca tulisan gue, see you 👌


Comments
Post a Comment