Skip to main content

Perkembangan emosional


Semoga tulisan ini dapat menemani masa-masa kita #DirumahAja 

Ya gue tahu, gue payah dalam mengendalikan amarah, tingkat perkembangan emosional gue masih rendah. 

Gue harus mengambil langkah pertama menuju perubahan, dan ini proses yang membutuhkan waktu. Tidak ada jalan pintas, jika gue berada dilevel 2, dan gue ingin berada dilevel 5, maka gue harus melalui level 3 dan 4 dulu sebelum sampai dilevel 5.

Untuk berhubungan secara efektif, gue harus belajar mendengarkan. Ini memerlukan kekuatan emosional, mendengarkan memerlukan kesabaran, keterbukaan dan keinginan untuk mengerti. 

Kenapa sih gue harus mengupgrade tingkat perkembangan emosional gue? Karena gue tidak mau hubungan gue dengan anak, istri gue nanti tidak terbuka, karena mereka takut akan akibatnya jika menceritakan kelemahan mereka, gue bisa saja main bentak dan menjadi pemimpin yang diktator (laukan ini, lakukan itu). Mungkin saja mereka nurut, tapi itu hanya diluar saja, mereka berontak didalam. Gue menjadi contohnya. 

Itu terjadi pada gue, gue tidak terbuka pada orangtua gue karena jika gue menceritakan kelemahan gue, mereka akan menyerbu masuk, untuk memperbaiki segala sesuatunya dengan nasihat baik. Tetapi gagal meluangkan waktu untuk mendiagnosis, untuk benar-benar mengerti secara mendalam masalahnya. Karena itu juga gue jika dibilangin ortu gue, gue iya iya doang. Tapi prakteknya beda lagi, karena jika gue protes, mereka tambah ceramahin gue dan gue males dengernya. Akhirnya komunikasi kita jadi tidak terbuka dan hanya satu arah Gue tidak mau ini terjadi pada hubungan istri dan anak gue kelak.

Didunia ini ada hal yang bisa kita kendalikan dan yang tidak bisa kita kendalikan. (Lho apa hubungannya?) Jadi gini, kelak istri dan anak gue adalah manusia, yang artinya gue harus siap dengan hal yang tidak bisa kita kendalikan, misalnya: mereka bisa meninggalkan gue kapan saja. Nah, makanya gue harus fokus pada hal yang bisa kita kendalikan, seperti: gimana hubungan gue dengan mereka dan bagaimana gue memperlakukan mereka. Jadi gue harus buat internal goal, gue harus memastikan kalau internal goal gue itu tercapai. Jadi, jika nanti terjadi sesuatu diluar kendali kita, setidaknya gue sudah menjalankan apa yang bisa kita kendalikan dengan baik. 
Pesan Epictetus, karena anak, istri dan orang-orang terkasih di sekitarmu itu fana/mortal, hargailah setiap momen bersama mereka.

Thank you telah membaca tulisan gue, see you 👌
confident yet humble

Comments

Popular posts from this blog

Kesempatan kedua

Jika masa lalu penuh dengan pikiran dan perbuatan negatif, maka anda bisa mengubahnya ke arah positif. Jika anda sadar bahwa semua yang terjadi pada masa lalu tidaklah baik, maka mulailah mengubah sikap dan tingkah laku sedikit demi sedikit. Dengan demikian, mulai timbul perasaan bangga dalam diri bahwa anda dapat menangani situasi sesuai keinginan anda. Akhirnya, hal ini akan berkontribusi terhadap terbentuknya harga diri yang tinggi.  (Itu adalah kutipan dari buku 'cara mudah berdamai dengan diri sendiri'). (Tujuan gue bukan untuk menjadi lebih baik dari orang lain, tetapi untuk menjadi lebih baik dari gue ddulu)  Jadi gini, jelek-jelek gini gue pernah TPA lho, dan prestasi terbaik gue di TPA itu adalah gue pernah peringkat 8, dari 9 murid (haha gak deng). Masuk SD gue mulai sholat maghrib di masjid sama teman-teman, tapi ya gak selalu sholat sih. Masuk SMP gue mulai sholat dzuhur berjamaah disekolah, itu juga gue bercanda, biasanya gue isengin orang dengan cara ...

Jum'at Keramat

Pas cabut (madol) kita enggak foto-foto sih Adanya itu yang pake seragam muslim  Setiap jum'at gue dan teman-teman (entah itu teman satu sekolah, dari sekolah lain, teman SMP dan tongkrongan) membuat sebuah gerakan (cih gerakan hahaha) yang kita namai dengan 'jum'at keramat'. Yang mana kita setiap jum'at cabut (madol) Berawal dari keresahan gue dan sahabat gue Adi, yang mana kita teman sekelas. Setiap hari jum'at itu ada pelajaran matematika, gurunya super killer, dia setiap ngajar selalu bawa gunting, gunanya adalah untuk memotong rambut yang menurut dia panjang, dan memotong celana yang skinny fit. Rambut gue pernah dipotong, tapi untungnya celana gue enggak kena potong, karena celana gue slim fit, jadi enggak begitu ketat kayak jeans cewek. Tapi celana gue udah sering diperingati. Ya, gue bilang aja ' besok ganti pak'  padahal mah enggak hahaha  Itulah alasan gue kenapa sering cabut (madol) dihari jum'at. Padahal ada solusi lain ka...

Change your habit, wiicak!

Semoga tulisan ini dapat menemani masa-masa kita #dirumahaja Setelah gue pikir-pikir lagi, gue jadi semakin yakin buat menghentikan kebiasaan gue merokok (setelah gue pulih).  Jadi gini, gue pertama ngerokok itu kelas 1 SMP. Pertama kali gue ngerokok itu gue nyoba filter, waktu itu rasanya sih panas dilidah dan gue langsung batuk-batuk. Tapi bukannya kapok gue malah penasaran, terus besoknya disekolah gue disarankan teman gue buat nyoba rokok mild, katanya itu lebih ringan. Sepulang sekolah (kebetulan gue pulang sekolah jalan kaki), gue beli lah rokok mild (ketengan), ternyata benar lebih ringan tarikannya dan lebih murah daripada filter yang 1.500, jadi gue bisa beli rokok sama teh gelas hahaha. Saat itu gue masih ekskul futsal, tapi udah males-malesan karena gue udah kenal nongkrong, dari situ gue mulai tuh nongkrong (karena gue butuh tempat dimana gue bisa bebas ngerokok). Karena pernah satu hari gue sama teman gue kan baru pulang dari rumah teman gue di kedoya, kita ...