Skip to main content

Menghilangkan emosi negatif

Semoga tulisan ini dapat menemani masa-masa kita #dirumahaja

Saat gue baca buku FILOSOFI TERAS, ada bab yang menarik perhatian gue, yaitu bab mengenai "hidup selaras dengan alam". Hmmm menarik dicoba nih, untuk menghilangkan emosi negatif gue. 

Stoisisme menekankan satu-satunya hal yang di miliki manusia yang membedakannya dari binatang adalah nalar, akal sehat, rasio. Manusia yang hidup selaras dengan alam adalah manusia yang hidup sesuai desainnya, yaitu makhluk bernalar. 

Hidup selaras dengan alam untuk manusia artinya kita harus menggunakan nalar. Saat kita tidak menggunakannya, praktis kita tidak beda dengan binatang. 

Coba kita pikirkan situasi-situasi dimana kita mungkin kehilangan nalar, akal sehat atau kepala dingin walau hanya sesaat:
-kita sedang berkendara dijalan, kemudian kendaraan kita disalip orang. Serta-merta kita emosi dan marah-marah, bahkan sampai mengejar penyerobot tersebut untuk membalas dendam. 

-kita mencium wangi parfum wanita lain dibaju suami (buat yang wanita nih), tanpa berpikir panjang kita menyentuhkan panci ke pipi suami (dengan kecepatan tinggi).

-kita membaca sebuah postingan provokatif di media sosial dan langsung emosi, sehingga kita marah-marah dikolom komentar atau segera memfoward ke banyak orang tanpa mengecek dulu kebenarannya. 

Disemua contoh situasi tadi, kita sedang tidak menggunakan nalar dan hanya mengandalkan nafsu. Apakah kira-kira semua tindakan tadi akan membawa hasil yang positif? Inilah yang di maksudkan didalam stoisisme, agar kita "hidup selaras dengan alam", sebisa mungkin disetiap situasi hidup, kita tidak kehilangan nalar kita dan berlaku seperti binatang, yang akhirnya berujung kepada ketidakbahagiaan. 

Satu lagi bab yang mungkin bisa gue terapkan untuk menghilangkan emosi negatif gue yaitu dengan mengendalikan interpretasi gue terhadap peristiwa. Ambil contoh (ini sering sekali bikin gue naik pitam). Peristiwa: Ade gue balikin barang gue dengan cara dilempar, interpretasi gue (biasanya): wah kurang ajar dia, udah mulai berani sekarang, dan hasilnya: emosi negatif 
Mungkin gue bisa mengendalikan intepretasi gue gini: peristiwa: Ade gue balikin barang gue dengan cara dilempar, interpretasi gue (bisa gue ubah gini): oh mungkin dia buru-buru lagi kebelet, jadi balikin barang gue dilempar, atau memang dia gak tahu sopan santun. Hasilnya: lebih positif. Ini juga bisa di terapkan di situasi lain, karena menurut para filsuf stoa, peristiwa yang menimpa kita sifatnya netral (tidak baik/buruk), intepretasi kitalah yang membuatnya baik/buruk. 

Bagi Seneca, orang yang marah sedang mengalami "gila sementara" 
Marcus Aurelius menambahkan bahwa murka bukanlah sifat yang terpuji, kesantunan dan kebaikan lah yang menentukan kemanusiaan seseorang. Sesungguhnya orang lembut lah yang memiliki kekuatan dan keberanian, bukan si pemarah dan tukang keluh. 

Membaca dua quotes diatas membuat gue malu. Gimana gak malu coba, hobi gue marah-marah, masa gue dianggap "gila sementara". Ya, walaupun hanya sementara tapi tetap aja gila men, gengsi dong. Marcus Aurelius itu seorang kaisar romawi, masa kaisar aja bisa bertindak seperti itu, sebagai calon raja gue harus tiru beliau dong hahaha. Selama ini gue selalu berusaha menjadi "pemenang", makanya gue bertindak reaktif setiap ada yang mancing amarah gue, sayang sekali men paradigma gue di patahin oleh quote dari Marcus Aurelius.
(Jika Anda ingin menjadi raja bertindak seperti itu)

Gue akui memang sulit menghilangkan emosi negatif dari diri gue, tapi sulit tidak berarti mustahil, gue hanya harus mencoba lebih keras lagi. Ya oke, akan gue coba!.

Thank you sudah membaca tulisan gue, see you 👌
Stay confident yet humble 

Comments

Popular posts from this blog

Kesempatan kedua

Jika masa lalu penuh dengan pikiran dan perbuatan negatif, maka anda bisa mengubahnya ke arah positif. Jika anda sadar bahwa semua yang terjadi pada masa lalu tidaklah baik, maka mulailah mengubah sikap dan tingkah laku sedikit demi sedikit. Dengan demikian, mulai timbul perasaan bangga dalam diri bahwa anda dapat menangani situasi sesuai keinginan anda. Akhirnya, hal ini akan berkontribusi terhadap terbentuknya harga diri yang tinggi.  (Itu adalah kutipan dari buku 'cara mudah berdamai dengan diri sendiri'). (Tujuan gue bukan untuk menjadi lebih baik dari orang lain, tetapi untuk menjadi lebih baik dari gue ddulu)  Jadi gini, jelek-jelek gini gue pernah TPA lho, dan prestasi terbaik gue di TPA itu adalah gue pernah peringkat 8, dari 9 murid (haha gak deng). Masuk SD gue mulai sholat maghrib di masjid sama teman-teman, tapi ya gak selalu sholat sih. Masuk SMP gue mulai sholat dzuhur berjamaah disekolah, itu juga gue bercanda, biasanya gue isengin orang dengan cara ...

Jum'at Keramat

Pas cabut (madol) kita enggak foto-foto sih Adanya itu yang pake seragam muslim  Setiap jum'at gue dan teman-teman (entah itu teman satu sekolah, dari sekolah lain, teman SMP dan tongkrongan) membuat sebuah gerakan (cih gerakan hahaha) yang kita namai dengan 'jum'at keramat'. Yang mana kita setiap jum'at cabut (madol) Berawal dari keresahan gue dan sahabat gue Adi, yang mana kita teman sekelas. Setiap hari jum'at itu ada pelajaran matematika, gurunya super killer, dia setiap ngajar selalu bawa gunting, gunanya adalah untuk memotong rambut yang menurut dia panjang, dan memotong celana yang skinny fit. Rambut gue pernah dipotong, tapi untungnya celana gue enggak kena potong, karena celana gue slim fit, jadi enggak begitu ketat kayak jeans cewek. Tapi celana gue udah sering diperingati. Ya, gue bilang aja ' besok ganti pak'  padahal mah enggak hahaha  Itulah alasan gue kenapa sering cabut (madol) dihari jum'at. Padahal ada solusi lain ka...

Change your habit, wiicak!

Semoga tulisan ini dapat menemani masa-masa kita #dirumahaja Setelah gue pikir-pikir lagi, gue jadi semakin yakin buat menghentikan kebiasaan gue merokok (setelah gue pulih).  Jadi gini, gue pertama ngerokok itu kelas 1 SMP. Pertama kali gue ngerokok itu gue nyoba filter, waktu itu rasanya sih panas dilidah dan gue langsung batuk-batuk. Tapi bukannya kapok gue malah penasaran, terus besoknya disekolah gue disarankan teman gue buat nyoba rokok mild, katanya itu lebih ringan. Sepulang sekolah (kebetulan gue pulang sekolah jalan kaki), gue beli lah rokok mild (ketengan), ternyata benar lebih ringan tarikannya dan lebih murah daripada filter yang 1.500, jadi gue bisa beli rokok sama teh gelas hahaha. Saat itu gue masih ekskul futsal, tapi udah males-malesan karena gue udah kenal nongkrong, dari situ gue mulai tuh nongkrong (karena gue butuh tempat dimana gue bisa bebas ngerokok). Karena pernah satu hari gue sama teman gue kan baru pulang dari rumah teman gue di kedoya, kita ...