Akhirnya gue sampai pada kesadaran bahwa hidup ini singkat maka harus seimbang antara bersenang-senang dan belajar. Jika lu hanya fokus pada satu saja, lu akan kehabisan waktu untuk mengerjakan yang lain.
Di kehidupan gue yang pertama kebiasaan gue benar-benar tidak seimbang, gue hanya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang tanpa memedulikan yang lain.
Alasan dulu gue malas belajar karena gue tahunya belajar ya sekolah. Sementara gue benci sekolah, alasan gue benci sekolah karena gue tipe orang yang hanya menerima peraturan yang gue rasa bermanfaat buat gue, inget lho 'yang gue rasa bermanfaat buat gue' . Kan banyak peraturan yang dibuat dengan dalih 'ini bermanfaat buat kamu', dan gue juga gak nerima peraturan yang sewenang-wenang, sementara di sekolah banyak peraturan seperti itu.
Kita sering bertemu orang dengan pola pikir bahwa belajar hanya di sekolah dan ngapain belajar, kan udah lulus sekolah, termasuk gue dulu. Namun, setelah gue tahu bahwa itu bahaya, gue langsung mengubah pola pikir gue dari fixed mindset ke growth mindset, alasan terkuat untuk mengubah mindset karena gue gak lulus SMA, bukan karena didrop out, tapi gue mengundurkan diri karena ingin fokus pemulihan. Setelah gue baca buku MINDSET karya Carol Dweck, gue jadi mikir kalau gue gak bisa gini terus, ini demi Wicak 10-20 tahun lagi, karena masa depan kita tergantung kebiasaan kita sehari-hari. Pola pikir adalah yang membedakan yang terbaik dari yang lain.
Semakin sering kita melihat mereka yang pandai di sekolah tidak pandai dalam kehidupan. Kenapa bisa begitu? Karena ada orang pandai yang berpikir ia akan pandai selama-lamanya, padahal mindsetnya tidak berkembang dan potensinya terkubur. Sementara ada manusia biasa-biasa saja yang belum terlihat pandai, namun pola pikirnya berkembang sehingga potensi yang dimiliki dapat membawanya pada keadaan yang tidak terduga.
Karen Arnold berkata, para lulusan terbaik cenderung tidak menjadi visioner di masa depan. Biasanya mereka tinggal dalam sistem, bukan mengguncang sistem.
Jadi, mengapa orang-orang nomor satu di sekolah jarang menjadi orang nomor satu di kehidupan nyata? Ada dua sebab. Pertama, sekolah menghadiahi para siswa yang secara konsisten melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka. Nilai akademis hanya memiliki sedikit korelasi dengan tingkat kecerdasan. Tetapi, nilai akademis adalah peramal yang sangat bagus untuk kedisiplinan, kesungguhan, dan kemampuan untuk mematuhi aturan.
Penyebab kedua adalah sekolah memberi penghargaan pada kaum generalis. Tidak banyak pengakuan yang diberikan kepada passion. Tetapi dunia nyata melakukan hal yang sebaliknya.
Wright bersaudara adalah penemu pesawat terbang, yang pada 17 desember 1903 mereka berhasil menerbangkan pesawat pertama mereka, hal yang sangat mengagumkan dalam cerita pembuatan pesawat terbang ini adalah, kedua bersaudara ini bahkan tidak lulus sekolah menengah atas.
Jadi, jangan rendah diri dengan kekurangan pendidikan anda. Begitu banyak contoh yang membuktikan bahwa sekolah tinggi tidak menjamin keberhasilan seseorang .
Gue gak punya masalah dengan kalian yang sedang atau ingin sekolah untuk menggapai cita-cita lho ya. Ini pendapat gue, kalau pendapat kalian berbeda ya silahkan, gue hargai itu. Kita jangan fanatik pada cara, tapi pada tujuan. Ya mungkin cara kita beda, ada yang suka sekolah ada yang sama sekali gak suka, tapi tujuan kita sama, sama-sama ingin belajar agar lebih baik lagi kedepannya.
Di kehidupan yang kedua ini, gue gak mau menyia-nyiakan kesempatan yang telah Allah beri dengan mengganti kebiasaan gue yang lama dengan kebiasaan baru yang lebih baik. Dengan kondisi gue sekarang dan ketidakcocokan gue dengan sekolah, gue memutuskan untuk belajar mandiri aja, kan belajar gak harus sekolah, gue sekarang jadi suka baca buku, gue selalu meluangkan waktu untuk membaca buku, alasan gue suka baca buku karena gue bisa menemukan pelajaran yang gak diajarkan di sekolah, yang mana menurut gue itu penting untuk kita tahu. dulu gue selalu skeptis kalau ada yang ngomong 'buku adalah jendela ilmu', tapi setelah mengalami sendiri, gue percaya. Gue benci sekolah tapi suka belajar.
Pendidikan tradisional adalah lingkungan yang Bagus bagi siswa dengan nilai"100". Tapi bukan lingkungan yang tepat untuk saya. Pendidikan tradisional menghancurkan semangat saya, berusaha memotivasi saya dengan emosi takut: takut melakukan kesalahan, takut gagal dan takut tidak mendapatkan pekerjaan. Mereka memprogram saya untuk menjadi karyawan
Robert Kiyosaki
Boleh berhenti sekolah tapi jangan berhenti belajar, cukup cukup dan terima kasih.
Comments
Post a Comment