Skip to main content

EGO IS THE ENEMY

 

Ego Anda bukanlah kekuatan yang harus Anda puaskan pada setiap kesempatan. Ego dapat diatur. Ego dapat diarahkan.

Jadi gini, gue kan lagi baca buku 'EGO IS THE ENEMY' karya Ryan Holiday. Sesaat gue teringat, kalau dulu gue itu terlalu sering memuaskan ego yang ada dalam diri gue, disitu di sebutkan jika ego sering berbisik 'gue tahu segalanya', nah gue menuruti itu sehingga gue jadi males mempelajari hal-hal baru.

Ya, gue menyadari kalau salah satu alasan gue males mempelajari hal-hal baru, diperkuat dengan ketidak cocokan gue dengan pelajaran sekolah/akademik. Tapi jika memang gue gak cocok dengan pelajaran sekolah, kan gue bisa mempelajari pelajaran non akademik, seperti yang sedang gue pelajari sekarang. (Ah, itu hanya bisa-bisanya gue aja bikin alasan).

Disitu juga dijelaskan, jika ego adalah saudara jahat dari kesuksesan. Kesuksesan membutuhkan kerendahan hati, kerendahan hati untuk terus belajar dan mau mendengarkan kritik. Ego dalam diri kita selalu mengatakan bahwa 'gue tahu segalanya' dan 'gue lebih baik dari kalian', itu yang menyulitkan kita menggapai kesuksesan. Let say kita udah menggapai kesuksesan, sukses itu kan tidak pernah final, kita masih harus terus mempelajari hal-hal baru dan kita juga perlu umpan balik untuk memperbaiki diri, tapi jika kita masih terus memuaskan ego, kesuksesan akan cepat berlalu.

Gue sangat berterima kasih kepada Allah atas kesempatan yang diberikan. Karena jika gak ada musibah ini, pasti gue masih memelihara kebiasaan buruk gue, dan pada akhirnya gue kesulitan menggapai kesuksesan. Padahal Allah bisa aja membiarkan gue memanen apa yang telah gue tanam. Tapi karena Allah maha pengasih lagi maha penyayang, gue gak dibiarkan merasakan itu.

Wicak gak menyesal, Wicak menjadikan itu sebagai pengalaman pembelajaran.

Cukup sekian dan terima Kasih.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kesempatan kedua

Jika masa lalu penuh dengan pikiran dan perbuatan negatif, maka anda bisa mengubahnya ke arah positif. Jika anda sadar bahwa semua yang terjadi pada masa lalu tidaklah baik, maka mulailah mengubah sikap dan tingkah laku sedikit demi sedikit. Dengan demikian, mulai timbul perasaan bangga dalam diri bahwa anda dapat menangani situasi sesuai keinginan anda. Akhirnya, hal ini akan berkontribusi terhadap terbentuknya harga diri yang tinggi.  (Itu adalah kutipan dari buku 'cara mudah berdamai dengan diri sendiri'). (Tujuan gue bukan untuk menjadi lebih baik dari orang lain, tetapi untuk menjadi lebih baik dari gue ddulu)  Jadi gini, jelek-jelek gini gue pernah TPA lho, dan prestasi terbaik gue di TPA itu adalah gue pernah peringkat 8, dari 9 murid (haha gak deng). Masuk SD gue mulai sholat maghrib di masjid sama teman-teman, tapi ya gak selalu sholat sih. Masuk SMP gue mulai sholat dzuhur berjamaah disekolah, itu juga gue bercanda, biasanya gue isengin orang dengan cara ...

Jum'at Keramat

Pas cabut (madol) kita enggak foto-foto sih Adanya itu yang pake seragam muslim  Setiap jum'at gue dan teman-teman (entah itu teman satu sekolah, dari sekolah lain, teman SMP dan tongkrongan) membuat sebuah gerakan (cih gerakan hahaha) yang kita namai dengan 'jum'at keramat'. Yang mana kita setiap jum'at cabut (madol) Berawal dari keresahan gue dan sahabat gue Adi, yang mana kita teman sekelas. Setiap hari jum'at itu ada pelajaran matematika, gurunya super killer, dia setiap ngajar selalu bawa gunting, gunanya adalah untuk memotong rambut yang menurut dia panjang, dan memotong celana yang skinny fit. Rambut gue pernah dipotong, tapi untungnya celana gue enggak kena potong, karena celana gue slim fit, jadi enggak begitu ketat kayak jeans cewek. Tapi celana gue udah sering diperingati. Ya, gue bilang aja ' besok ganti pak'  padahal mah enggak hahaha  Itulah alasan gue kenapa sering cabut (madol) dihari jum'at. Padahal ada solusi lain ka...

Change your habit, wiicak!

Semoga tulisan ini dapat menemani masa-masa kita #dirumahaja Setelah gue pikir-pikir lagi, gue jadi semakin yakin buat menghentikan kebiasaan gue merokok (setelah gue pulih).  Jadi gini, gue pertama ngerokok itu kelas 1 SMP. Pertama kali gue ngerokok itu gue nyoba filter, waktu itu rasanya sih panas dilidah dan gue langsung batuk-batuk. Tapi bukannya kapok gue malah penasaran, terus besoknya disekolah gue disarankan teman gue buat nyoba rokok mild, katanya itu lebih ringan. Sepulang sekolah (kebetulan gue pulang sekolah jalan kaki), gue beli lah rokok mild (ketengan), ternyata benar lebih ringan tarikannya dan lebih murah daripada filter yang 1.500, jadi gue bisa beli rokok sama teh gelas hahaha. Saat itu gue masih ekskul futsal, tapi udah males-malesan karena gue udah kenal nongkrong, dari situ gue mulai tuh nongkrong (karena gue butuh tempat dimana gue bisa bebas ngerokok). Karena pernah satu hari gue sama teman gue kan baru pulang dari rumah teman gue di kedoya, kita ...